Gedung Sate, Bangunan Kuno nan Gagah di Kota Bandung

posted in: Bandung, Traveling, Wisata | 3

Advertisement

Pembangunan Gedung Sate

Gedung Sate MalamDisebut Gedung Sate karena terdapat tiang mirip tusuk sate di bagian atap gedung. Gedung ini dibangun pada jaman Belanda, tepatnya pada tahun 1920 dan baru selesai pada tahun 1924. Proses pembangunan mengerahkan 2000 orang pekerja. Pekerja yang dipekerjakan bukanlah pekerja Romusha melainkan pekerja yang dibayar. Pembangunan gedung ini pun melibatkan sejumlah pekerja asing misal dari negeri Cina. Adapun arsitek yang berperan dalam proses pembangunan Gedung Sate adalah Jon Gebert. Sungguh bangunan kuno nan gagah yang masih berdiri megah sampai sekarang.

Bila diamati gaya arsitektur Gedung Sate adalah gabungan antara gaya arsitektur dari Italia, Candi Borobudur, Pagoda, Meru, dan tanpa melupakan ciri khas asli dari Jawa Barat. Ornamen dengan ciri tradisional bangunan candi Hindu dapat dilihat pada dinding fasade bagian depan Gedung Sate. Adapun di bagian tengah gedung juga terdapat menara yang beratap susun mirip sebuah Meru atau Pagoda di Bali. Dengan perpaduan apik tersebut Gedung Sate tampil unik sebagai salah satu bangunan kuno hasil perpaduan budaya Timur dan Barat.

gedung-sate-wisataBila Anda masuk ke dalam gedung akan terlihat lampu-lampu besar menghiasi interior. Lampu-lampu menggantung dengan cantiknya sampai sekarang. Adapun desain gedung didominasi dengan warna putih. Tidak heran bila Gedung Sate juga dikenal sebagai Gedung Putih milik kota Bandung karena mirip dengan Gedung Putih di Amerika. Sebelumnya sudah disebutkan terdapat menara di bagian tengah. Di dalam menara tersebut terdapat sirene yang pada jaman Belanda dulu digunakan sebagai pemberi tanda adanya perang. Bunyi sirine tersebut dulu santer terdegar sampai radius 20 kilometer.

Gedung Sate Saat Ini

Gedung Sate yang berlokasi di jalan Diponegoro 22 Bandung saat ini memiliki fungsi utama sebagai kantor pusat pemerintah gubernur Jawa Barat. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya gedung ini juga menjadi salah satu lokasi wisata paling populer. Gedung Sate bahkan sangat ramai dikunjungi terutama pada akhir pekan. Pada akhir pekan lapangan yang berada tepat di depan gedung pun beralih fungsi menjadi lokasi Gasebu SunMor Activity atau pasar kaget. Banyak warga yang datang berkunjung baik untuk berolahraga, bersantai, atau lainnya.

Dulu Gedung Sate dikenal dengan nama GB atau Gouvernements Bedrijven. Dari namannya diketahui bahwa pada jaman Belanda dulu Gedung Sate memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan Belanda. Gedung ini sendiri memiliki 5 lantai. Lantai 1 sekarang digunakan untuk poliklinik dan basement. Lantai 2 sebagai kantor pemerintah gubernur Jawa Barat. Di lantai 3 terdapat ruang kerja wagub Jawa Barat. Di lantai 4 difungsikan sebagai ruang pameran. Adapun di lantai 5 yang dulu berfungsi sebagai tempat minum kopi pemerintah Belanda, kini dijadikan pemandangan.

Advertisement

3 Responses

  1. Arsitektur Gedung Sate memang menawan dan kental dengan aroma kolonial. Nampaknya sang arsitek yang mendesain bangunan Gedung Sate ini bulat-bulat mengawantahkan arsitektur dari Belanda sana ke Indonesia melalui desain arsitektur bangunan ini.
    Dari kacamata arsitek (kebetulan sy seorang arsitek yg bekerja di salah satu perusahaan biro arsitek di Jakarta yakni Arsitek Online), saya melihat nampaknya Belanda sengaja membangun bangunan Gedung Sate ini begitu megah untuk menunjukkan kewibawaan kolonialisme yang sedang mereka jalankan, sehingga semua orang akan segan dan takjub.
    Itu dulu dari saya.
    Salam sukses semuanya,

    Endah Jayatri
    (arsitek)

  2. emang asli keren lah gedung sate mah,cocok untuk poto poto 😀

Leave a Reply