Tari Jaipong: Berawal Dari Tradisi ke Identitas Budaya

posted in: Budaya | 3

Advertisement

Tari Jaipong CantikKebanyakan orang mengenal tari jaipong sebagai salah satu seni tradisional dari Jawa Barat. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat meskipun juga tak salah. Sebab tari ini merupakan hasil kreativitas seorang seniman kontemporer di era 60an sebagai bentuk tandingan dari seni-seni Barat yang saat itu mulai merambah masyarakat Indonesia. Dengan mengadopsi beberapa gaya seni tradisional Sunda, gerakan-gerakan dalam Jaipongan dipadukan dengan semangat tarian modern. Hasilnya bisa kita nikmati sekarang dalam pertunjukan Jaipong dengan ketukan-ketukan dinamis dan cenderung interaktif namun masih kental gaya tradisionalnya.

Sejarah Perkembangan Tari Jaipong

Seni tari jaipong dikreasikan oleh seorang seniman Sunda bernama Gugum Gumbira. Di tahun 1961, ia merasa terpanggil untuk kembali menggali seni tari tradisional, sekaligus memadukannya dengan gaya-gaya kontemporer. Salah satu alasan yang memicu niatnya ialah kebijakan Presiden Soekarno yang melarang keras seni atau musik Barat di Indonesia karena dianggap sebagai bentuk kolonialisme baru. Dari situlah Gugum Gumbira mengambil beberapa elemen tradisional seperti Ketuk Tilu, Pencak Silat, Tari Topeng Banjet, dan bahkan gaya dansa ala Barat.

Tari Jaipong AnakJika dibandingkan dengan tarian Sunda lainnya, jelas bahwa tari jaipong punya perbedaan. Tarian Sunda tradisional lebih dikenal dengan gerakan-gerakan lembut dan lebih sering menundukkan pandangan mata. Sedangkan Jaipongan mengandung gerakan-gerakan cepat dan agresif dengan irama kendang yang dinamis. Bahkan seorang penari Jaipong lebih berani mengumbar pandangan mata ke pasangan atau penonton sebagai cara berinteraksi. Oleh sebab itu, waktu pertama kali ditampilkan di tahun 1960-an, Jaipong dianggap sebagai seni tari modern yang menggebrak gaya-gaya konservatif. Urutan gerakannya pun sangat unik meskipun masih memiliki ciri-ciri tradisi Sunda.

Pada awalnya, tari jaipong lebih sering ditampilkan dalam konsep hiburan rakyat. Artinya ialah posisi para penari yang sejajar dengan para penonton dan pemain kendang. Kategori ini disebut Tarian Acak atau Ibing Saka. Bahkan para penonton pun bisa ikut terlibat dalam tarian bersama sang penari, seperti yang kita jumpai pada seni tari Tayub atau Ronggeng. Versi lainnya dibawakan dalam format panggung dan disebut Tarian Berpola atau Ibing Pola. Konsepnya diatur dalam seni koreografi yang dipentaskan di atas panggung dan berjarak dengan para penonton.

Di masa pemerintahan Orde Baru, pertunjukan tari jaipong bahkan sempat diakui secara internasional di tahun 1974. Waktu itu penciptanya, Gugum Gumbira bersama beberapa rekan mendapatkan kehormatan untuk mementaskan para penari Jaipong dalam ajang Festival Hongkong Arts. Berawal dari sebuah kreativitas untuk menandingi budaya Barat, saat itulah seni Jaipongan menempatkan diri sebagai salah satu bentuk kebudayaan yang membanggakan Indonesia. Lalu akhirnya berkembang sebagai satu bentuk seni tari dari Sunda yang menjadi identitas khas di Jawa Barat.

Advertisement

3 Responses

  1. your article is very good …!

    • its not true.. the matery is bad, not good and i think its not important matery haha.. keep working!

  2. tari jaipong bukan karya gugum gumbira bandung tapai karya ali saban dan mang askin dari karawang,

Leave a Reply